PLEMBANG

WOW !!! Panas euy !

Itu yang terlintas di benak saya saat saya pertama kali menjejakkan kaki di Bandara Sulatan Mahmud Badarudin II. Suhu kota kira-kira mencapai 29 derajat Celcius (informasi ini di dapat dari dari pilot GA 114 yang saya tumpangi). Perjalanan kali ini dalam rangka tugas yang diberikan oleh negara kepada saya.

Tiba di bandara sekitar jam 11 WIB, saya langsung disambut oleh hawa panas bin gerah. Akhirnya setelah lumayan lama menunggu di bandara, penjemput kami datang juga. Dia adalah salah satu pegawai kantor yang akan saya datangi. Perjalanan menuju kantor tersebut pun kami lanjutkan. Saya kira cuaca panas ini hanya terjadi di lingkungan bandara, ternyata anggapan ini keliru. Selama di perjalanan menuju kantor dan di lingkungan kantor yang berlokasi di Sukarami pun terasa sekali cuaca yang panas. Di tulisan ini saya gak akan menulis tentang pekerjaan yang saya lakukan. Saya akan menulis tentang petualangan kecil saya selama di Palembang.

Secuil cerita untuk para pembaca, Palembang adalah salah satu kota tertua di Indonesia. Kebudayaan di sini telah muncul sejak abad ke 6, sejak jaman kerajaan Sriwijaya. Namanya pun kerap berubah-ubah mulai dari Mukha Upang hingga menjadi Palembang. Penduduk Palembang sendiri, tidak menyebut Palembang seperti orang luar Palembang. Mereka melafalkannya Plembang, dihilangkan huruf a-nya. Entah saya salah dengar atau mereka yang salah ucap, yang pasti kata itu tetap ditujukan ke ibukota Sumatera Selatan. Oiya, di telinga saya logat penduduk Palembang terdengar mirip (bahkan hampir sama) dengan orang di Belitong. Mungkin karena jarak yang tidak terlalu jauh antara Sumatera Selatan dengan Belitong.

Nah, pada malam pertama di Kota Pempek ini, saya belum berkesempatan untuk mencicipi pempek ‘asli’ Palembang. Pempek dulunya berasal dari olahan ikan beliga yang konon banyak hidup di sungai Musi. Untuk pempek jaman sekarang, saya kurang tahu diambil dari ikan apa. Ide pempek ini dimulai dari seorang tua keturunan Cina yang merasa sayang dengan ikan tangkapannya. Merasa bosan dengan pengolahan ikan yang hanya digoreng atau dibakar saja, maka orang itu memutuskan untuk membuat suatu makanan baru dari hasil tangkapannya dan dijualnya. Dia menjajakan daganganya keliling kampung. Orang-orang di kampung tersebut memanggil orang tua Cina tersebut dengan panggilan “Apek ! Apek !” Apek berarti tua.Nah, lama kelamaan, makanan baru itu diberi nama Pempek dan ada juga yang menyebut Empek-empek.

Malam pertama ini saya diajak kawan kantor untuk mencicipi makanan khas Palembang lainnya, yakni Martabak Har. Sepintas martabak ini tidak beda dengan martabak yang lainnya, tapi setelah dimakan barulah terasa bedanya. Di dalam kulit martabak tidak terdapat olahan telur dicampur daun bawang atau daging seperti yang sering kita jumpai. Di dalam martabak Har, hanya terdapat telur saja, tanpa campuran apapun. Jadi pas kulit martabak itu digoreng, telur yang masih utuh langsung dipecahkan di atas kulit itu. Dan jadilah martabak Har seperti di gambar berikut ini.

Selain menyantap martabak Har, saya juga menyempatkan diri untuk mencicipi Nasi Briyani. Sebuah beras yang dimasak menggunakan kari. Bumbu karinya meresap ke beras, sehingga terciptalah nasi briyani yang gurih. Kita bisa memakannya tanpa menambahkan lauk karena nasinya sendiri sudah nikmat. Namun, tak ada salahnya jika ingin menyantap nasi briyani ditemani lauk pauk yang tersedia.

Malam kedua pun tiba. Di malam ini, saya berkesempatan untuk mencicipi pempek yang sudah dinanti-nanti oleh saya. Tiba di restoran yang beralamat di Jalan Jenderal Sudirman, saya langsung memesan pempek ukuran kecil dan dicampur semua jenis pempeknya. Tak lama kemudian, datanglah pelayan membawa sepiring pempek dan sebuah gelas kecil. Gelas kecil itu lantas saya isi dengan cuko, air cuka yang telah dicampur bumbu untuk menyantap pempek. Saya celupkan sepotong pempek dan lalu saya makan. Hal ini berlangsung terus hingga saya melihat pengunjung lainnya yang cara makan pempeknya berbeda. Dia memakan pempeknya terlebih dahulu, kemudian meminum cukonya dari gelas kecil yang sama dengan yang ada di hadapan saya. Saya pun mengikuti cara orang itu dan hasilnya sangat berbeda. Lidah saya merasakan kenikmatan yang lebih saat memakan pempek lalu meminum cukonya. Rasanya lebih ‘menggambarkan’ pempek. Dahsyat !!!

Kedahsyatan tidak terhenti di sini… Akhirnya saya berkesempatan untuk mengunjungi sungai dan jembatan legendaris di Palembang. Perjalanan ke Jembatan Ampera ditempuh dengan menggunakan angkot. Saya ditemani oleh orang kantor dalam perjalanan ke Ampera. Oiya, angkot yang ada di Palembang mempunyai keunikan tersendiri. Angkot-angkot di Palembang mempunyai tiga pintu samping untuk penumpang, dan tempat duduk untuk penumpang tidak berhadapan, melainkan menghadap ke depan semuanya. Angkot-angkot di Palembang pasti dilengkapi dengan musik yang terkadang oleh si supir sengaja dinyalakan keras-keras (volume) pemutar musiknya.

Jembatan Ampera tampak indah dengan lampu-lampu yang tertempel, atau lebih tepatnya sengaja ditempelkan ke jembatan. Kemegahan dan kejayaan ilmu pengetahuan di masa lalu kini terpampang jelas di depan mata saya. Arus sungai Musi yang deras membawa ingatan saya pada cerita-cerita di buku sejarah tentang hebatnya kekuasaan Sriwijaya. Peran sungai Musi tidak bisa dikesampingkan dalam pembentukan pasukan maritim Sriwijaya yang kuat. Teman saya pun bercerita bahwa beberapa puluh tahun yang lalu, pernah ada kecelakaan pesawat. Pesawat naas itu meluncur deras ke arah sungai dan masuk ke sungai. Lalu muncullah gelombang air yang besar. Ternyata gelombang tadi berasal dari ledakan pesawat di dalam air sungai Musi.

Di dekat jembatan Ampera, terdapat Benteng Kuto Besak. Di mana benteng ini merupakan benteng peninggalan jaman kesultanan Darussalam. Namun, kami tidak bisa memasukinya karena sekarang benteng itu telah beralih fungsi menjadi markas TNI. Puas berjalan-jalan di malam hari, kami pun memutuskan untuk kembali ke hotel.

Palembang memberikan kenangan yang baru dalam lingkaran kehidupan saya. Cobalah Anda sekali-kali main ke Palembang, dan rasakan sensasi menyantap kuliner khas Palembang serta berjalan-jalan menikmati seluruh kota Palembang dengan angkutan umum.

2 thoughts on “PLEMBANG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s