KAMPUNG KITA SEMUA

Teman, tahukah kalian peristiwa apa yang paling ramai diberitakan di minggu ini ? Jawabannya bisa beragam, mulai dari peristiwa di Buol hingga naiknya harga bahan pokok. Namun, saya hanya akan menulis tentang mudik, bukan yang lain.

Mudik telah menjadi sebuah tradisi yang melekat kuat di benak setiap penduduk Indonesia. Setiap tahun jumlah pemudik cenderung meningkat. Mudik sendiri berasal dari udik, yang dalam beberapa literatur berarti kampung. Mudik berarti kembali ke kampung, makanya tidak ada orang kota yang mudik. Perputaran uang dalam peristiwa mudik bisa mencapai miliaran rupiah. Pemudik rela mengantri berjam-jam untuk mendapatkan tiket kendaraan yang akan digunakan untuk mudik.

gambar dicopy dan dipaste dari nasehatislam.com

Teman, namun kita perlu sadar bahwa sebenarnya kita masih punya kampung yang terkadang kita lupakan. Nama kampung itu adalah Kampung Akhirat, di mana ia merupakan kampung terbesar yang ada. Kita selaku manusia terkadang melupakan kampung itu, karena kita terlalu asyik di kampung yang lainnya. Padahal Kampung Akhirat merupakan kampung kita sebenarnya.

Perbedaan nampak terlihat jelas dalam hal mudik ke kampung halaman dan ke Kampung Akhirat. Segala persiapan nampak dilakukan oleh setiap manusia yang akan mudik ke kampung halaman. Mereka mempersiapkan dirinya dengan (tentunya) tiket kendaraan yang terkadang harganya gila-gilaan, pakaian yang akan dikenakan selama di kampung, pakaian baru untuk sholat Id, uang untuk sangu para keponakan di kampung, dan lain sebagainya. Namun, saat ditanya apa persiapan mudik ke Kampung Akhirat banyak dari kita yang kelupaan.

Teman, jika ditanya apakah saya sudah mempersiapkan bekal untuk mudik ke Kampung Akhirat, maka jawabannya adalah saya baru punya sedikit bekal untuk ke sana. Itupun sudah berkurang oleh ‘kenakalan-kenakalan’ yang saya lakukan di sini, di Kota Dunia. Malah mungkin saya berhutang bekal untuk persiapan ke Kampung Akhirat. Lantas apabila saya ditanya lagi sebuah pertanyaan tentang kesiapan untuk mudik ke Kampung Akhirat, maka saya akan jawab bahwa saya belum siap. Saya masih harus mengumpulkan bekal untuk ke sana dan mengurangi ‘kenakalan-kenakalan’ saya selama di Kota Dunia ini. Bukannya saya tak rindu padaNya, namun saya belum sanggup bertemu denganNya dalam keadaan kekurangan seperti sekarang ini.

Bagaimana dengan Teman, apakah kalian memikirkan mudik ke Kampung Akhirat ?

2 thoughts on “KAMPUNG KITA SEMUA

  1. iya-iya…
    pelayanan kampung akhirat sangat, prima Jon..
    Tiba tiket VIP dah dianter tanpa kita sangka nanti..
    Tiket bernama “kematian”…

    Mudah2an bisa mudik “ceria” di akhirat nanti.
    Bukan suram dalam kabut panas neraka. Hiiii…..syerem.

  2. agar kita tidak kekurang bekal ketika mudik akhirat setdaknya ada 3 hal yang sehingga tinggal gesek atm akhirat maka cairlah keuntungan yang kita inginkan dan 3 hal itu adalah 1.sodakoh jariah 2. ilmu yang bermanfaat 3. anak yang sholeh yang sll mendoakan kedua orang tuanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s