TECAM

Teman, kali ini saya akan sedikit bercerita mengenai kejadian kemarin sore. Rabu kemarin merupakan hari digelarnya pertandingan sepakbola antara PERSIB dan persisam. Sebagai seorang bobotoh, tentunya saya tak ingin melepaskan kesempatan ini. Saya memutuskan untuk menonton pertandingan tersebut (melalui televisi tentunya karena tak mungkin nonton langsung di stadion) di rumah kontrakan salah seorang teman. Saya memilih menggunakan bis Kopaja ke rumah teman. Pemilihan ini didasarkan pada jumlah bis Kopaja yang lebih banyak dari Transjakarta, selain itu saya masih bisa dapat tempat duduk bila menggunakan Kopaja. Namun, ternyata pilihan saya kali ini keliru. Apa pasal ?

Kemacetan kembali lagi terjadi di Jakarta, di ruas jalan yang sama, di waktu yang sama, dan mungkin kemacetan itu pun berisi orang-orang yang sama. Ya, bis Kopaja yang saya tumpangi pun termasuk dalam salah satu kendaraan yang berada dalam kemacetan di jalur lambat tersebut. Kemacetan kemarin sore bermula di Bundaran Senayan hingga kawasan Semanggi. FYI, pada jam yang sama dua hari yang lalu, jalanan tersebut cukup lengang. Antrian kendaraan juga terjadi di jalur cepat. Tak sabar dengan kemacetan yang terjadi kemarin, saya lantas turun dari Kopaja dan berjalan kaki menuju kawasan Semanggi untuk berganti Kopaja.

Ternyata eh ternyata, sebab kemacetan itu masih sama dengan yang lalu. Perpindahan kendaraan dari jalur lambat ke jalur cepat di ruas Jalan Sudirman membuat antrian kendaraan memanjang dari Semanggi hingga Bundaran Senayan. Antrian ini terjadi pada jalur lambat dan jalur cepat. Selain itu, kendaraan yang akan naik ke Jembatan Semanggi dapat pula dikatakan sebagai penyebab kemacetan. Namun, bisa jadi kemacetan ini juga dampak dari ditutupnya ruas jalan di sekitar kawasan Casablanca. Saat menghadapi kemacetan seperti ini, terlintas pertanyaan “Ahlinya ke mana nih ? Kok gak ada ?”

Apakah memang tak ada solusi untuk kemacetan ? Ada beberapa solusi yang bisa saya sampaikan :

  1. Gunakanlah angkutan umum jika bepergian sendirian atau berdua. Hal ini akan mengurangi jumlah kendaraan yang berkeliaran di jalanan ibukota. Selain itu, pengurangan jumlah kendaraan juga akan mengurangi jumlah gas buang (emisi), jumlah penggunaan bahan bakar, dan juga jumlah energi yang terbuang percuma. Merupakan suatu tantangan bagi pemerintah setempat dan penyedia jasa transportasi untuk menyediakan sarana trasnportasi yang lebih baik lagi.
  2. Jika jarak yang akan ditempuh hanya beberapa ratus meter, mendingan kita berjalan kaki. Kurangi penggunaan sepeda motor. Selain karena alasan pada poin pertama, berjalan kaki juga akan membantu kita menjaga kesehatan. Tak apalah berkeringat sedikit guna mendapatkan manfaat yang lebih besar.
  3. Beralihlah pada alat transportasi yang lebih bersahabat dengan diri kita, jalanan, bahkan dengan bumi ini. Cobalah gunakan sepeda untuk mobilitas Teman. Saya merupakan pesepeda. Berdasarkan pengalaman, saya bisa masuk di antara celah dua mobil di mana motor tak muat pada celah itu. Pesepeda pun tak dilarang menggunakan jalur cepat di ruas Jalan Sudirman. Kelebihan lainnya adalah sifat mobile yang dimiliki sepeda.
  4. Adanya pembatasan kendaraan pada ruas jalan tertentu mungkin akan mengurangi kemacetan. Namun, perlu sosialisasi yang intens dan disampaikan dengan baik agar program ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Harapan saya mungkin sama dengan orang lain, ingin menikmati perjalanan di Jakarta tanpa kemacetan sehingga tak perlu menghabiskan waktu satu setengah jam untuk menempuh jarak dari Purnawarman ke Cempaka Putih.

 

3 thoughts on “TECAM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s