Museum Nasional

Berwisata di akhir pekan tentulah sangat menghibur hati. Terlebih bila dilakukan bersama orang-orang tercinta. Akhir pekan kemarin, tepatnya 17 April 2011, saya mengajak si sayang jalan-jalan di seputaran Jakarta. Sudah lama kami tak keliling kota di akhir pekan.

Emang besok mau ke mana ? Demikian pesan singkat yang si sayang kirimkan melalui ponsel. Saya jawab, Ke mana ajalah. Dah lama gak jalan-jalan. Sebenarnya saya akan mengajaknya mengunjungi museum yang ada di Jakarta. Pertama saya akan mengajaknya ke Museum Nasional lalu ke Museum Fatahillah. Namun, tujuan ini masih saya rahasiakan darinya. Museum Nasional menjadi agenda penting dalam wisata kali ini. Sudah dua kali saya mencoba mengunjungi museum tersebut, namun hasilnya masih sama yakni TUTUP. Kedua kunjungan terebut saya lakukan pada hari Senin. Perlu Teman ketahui, sebagian besar museum di Jakarta tidak melayani kunjungan pada hari Senin.

Kami berdua mulai melakukan perjalanan ke museum sekitar pukul 11.00 WIB. Cuaca cerah, sehingga saya bisa menikmati gerahnya Jakarta hari itu. Perjalanan ke museum hanya menempuh waktu sekitar 20 menit. Sempat muncul keraguan kalau-kalau museum tutup pada hari Minggu. Beruntungnya museum ternyata memang tutup hanya pada hari Senin dan hari besar. Tiket masuk museum seharga Rp 5.000,00. Perlu Teman ketahui pula, di masa lalu harga tiket masuk Museum Nasional hanyalah Rp 750,00. Tiket dibeli di loket yang menyatu dengan lobi museum. Harga tiket yang hanya seperempat atau sepertiga harga tiket bioskop ternyata tidak bisa dibandingkan dengan ilmu yang diperoleh di museum ini. Pengunjung akan mendapatkan hal yang lebih dahsyat daripada menonton film di bioskop.

Museum ini terdiri dari dua bangunan utama, Gedung Lama dan Gedung Baru (maaf, saya tak sempat mencari tahu nama kedua bangunan tersebut).  Memasuki lobi museum yang terletak di Gedung Lama, kami disambut oleh tiga arca Budha. Pembeda dari tiap patung ini adalah posisi tangan Sang Budha. Saya hanya ingat dua posisi tangan Budha tersebut, Amitabha dan Waramudra. Pada Gedung Lama, terdapat beberapa ruangan. Ruangan Keramik, Ruangan Tekstil, Ruangan Gerabah, Ruangan Thailand (Thai Room), Ruangan Kebudayaan Indonesia, dan Ruangan Prasejarah. Beberapa penamaan ruangan ini ada yang merupakan kreasi saya sendiri karena saya tak sempat memperhatikan nama ruangan-ruangan tersebut.😛

Meskipun bernama Ruangan Keramik, justru koleksi meriamlah yang akan menarik perhatian mata kita pada kali pertama memasuki ruangan ini. Selebihnya ruangan ini berisi keramik yang dipajang di lemari, lonceng besar, patung kuda, dan patung kepala seseorang. Selain itu terdapat tugu dari batu peninggalan Kerajaan Sunda. Kalau tak salah, tugu ini menandai hubungan Portugis dan Kerajaan Sunda.

sebagian koleksi tengkorak manusia prasejarah

Halaman tengah museum didominasi oleh patung-patung atau arca. Patung sapi menjadi patung yang menjadi perhatian karena ukurannya yang paling besar di antara patung-patung di halaman. Pada bagian tengah museum ini, terdapat patung Adityawarman berukuran besar. Pada patung ini, Adityawarman sedang digambarkan dalam bentuk Bhairawa.

miniatur rumah adat Jawa Barat

Ruang Tekstil berisikan kekayaan tekstil yang terdapat di bumi Nusantara ini. Ada ulos, songket, ikat kepala, batik, hingga alat tenun. Semua tersusun apik sehingga sedap dipandang mata. Namun, sayangnya saya tak bisa menikmati koleksi tekstil yang lain karena ada beberapa koleksi kain yang tidak dipamerkan. Ruang tekstil ini terhubung dengan Ruang Thailand. Ruang Thailand atau Thai Room ini berisikan beberapa contoh kebudayaan Thailand. Oiya, ruangan ini merupakan ’ruang kehormatan’ bagi kebudayaan Thailand karena pemerintah Thailand banyak membantu pemerintah Indonesia dalam pembangunan museum ini. Patung gajah yang terdapat di depan museum merupakan hadiah dari Raja Chulalongkorn, seorang raja dari Thailand. Nah, karena adanya patung gajah di depan museum, maka Museum Nasional sempat bernama Museum Gajah.

sebagian koleksi Thai Room

Akhirnya seluruh ruangan di Gedung Lama Museum Nasional berhasil kami jelajahi. Kami pun melanjtukan perjalanan ke Gedung Baru Museum Nasional. Namun, suasana di Gedung Baru ini tidak membangkitkan minat kami untuk menjelajahinya. Jadi kami hanya melihat-lihat sebentar sebelum memutuskan untuk meninggalkan kawasan Museum Nasional.

Oleh-oleh dari kunjungan ke museum ini adalah rasa senang akan tambahan ilmu yang kami dapatkan dan juga karena pada kesempatan ketiga inilah kami berhasil memasuki Museum Nasional ini. Sangat pantas apabila kita mengajak orang terdekat kita untuk mengunjungi museum guna menambah wawasan, melihat peninggalan sejarah di Indonesia, dan memotivasi kita untuk menciptakan hal yang tercatat dalam sejarah.

2 thoughts on “Museum Nasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s