Museum Fatahillah

Museum Nasional telah berhasil kami jelajahi. Tujuan selanjutnya adalah Museum Fatahillah. Keluar dari Museum Nasional kami berencana melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bis transjakarta. Ternyata si sayang lapar coy ! Untunglah di seberang jalan, tepatnya di sebelah pos polisi Monas, ada tukang bakwan Malang. Kami hanya memesan semangkuk bakwan Malang. Selain dalam rangka berhemat, hal ini kami lakukan untuk meningkatkan kemesraan, hahahaha……๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Perut kenyang dan kami telah berada di dalam halte bis. Waduh, ternyata bis yang kami tunggu-tunggu tak kunjung datang. Perlu waktu sekitar 10 menit untuk mendapatkan bis transjakarta tujuan Kota ini. Suasana dalam bis seperti biasa, penuh sesak. Ada riuh celotehan anak-anak yang beranjak gede, ada gerombolan sahabat yang bercerita, dan ada pula penumpang yang cuek saja tak memberikan tempat duduk bagi seorang ibu hamil.

Panas menyengat, itulah yang terjadi saat saya keluar dari halte bis. Saya masih selalu terkejut dengan cuaca kota ini. Perjalanan dari halte bis kami lanjutkan dengan berjalan kaki. Jarak antara halte bis dan Museum Fatahillah memang dekat. Dalam perjalanan itu kami melewati dua museum, yakni Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia. Kedua museum ini tidak masuk dalam agenda kunjungan saya sehingga kami tak mampir ke museum tersebut.

Kawasan Kota Tua sangatlah ramai di Minggu siang. Baru kali ini saya mengunjungi Kota Tua di siang hari. Pengunjung Kota Tua sangatlah beragam mulai dari anak-anak kecil hingga wisatawan mancanegara. Museum Fatahillah ini menjadi ikon dari Kota Tua itu sendiri. Tiket masuk museum untuk orang dewasa dan umum adalah Rp 2.000,00. Untuk mahasiswa Rp 1.000,00 dan pelajar Rp 600,00. Untuk tiket rombongan dewasa, harga tiket per orang adalah Rp 1.500,00 dan untuk rombongan mahasiswa sebesar Rp 750,00 per orang, sedangkan untuk rombongan pelajar harga tiketnya adalah Rp 500,00 per orang.

Museum Fatahillah dikenal juga dengan sebutan Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia. Museum ini dulunya berupa kantor pemerintahan Batavia, sebuah balai kota Batavia. Dibangun pada tahun 1707-1710, yang berarti bangunan ini telah mencapai usia sekitar 400 tahun. Nama Fatahillah pada museum ini berasal dari orang yang mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Fatahillah adalah menantu dari Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah.

Gaya Eropa tampak jelas pada bangunan museum. Terang saja demikian karena gedung ini dibangun menyerupai Istana Dam di Amsterdam. Temboknya bercat putih dan tebal. Ruang pamer museum berada di lantai dasar dan lantai satu Museum Fatahillah. Terdapat pula ruang bawah tanah yang dulunya berfungsi sebagai penjara dan gudang amunisi. Selain itu terdapat pula perpustakaan, mushola, kafe museum, dan souvenir shop. Museum dilengkapi pula dengan taman pada bagian dalam. Nah, saat kemarin saya berkunjung ke sana banyak siswa dari sebuah lembaga pendidikan bahasa Inggris yang sedang bermain di taman tersebut.

Koleksi museum ini didominasi dengan mebel atau furniture saat gedung ini masih digunakan sebagai balai kota. Sebagian besar mebel tersebut masih dalam keadaan baik, namun ada beberapa yang mengalami kerusakan ringan. Banyak sekali larangan untuk menyentuh koleksi-koleksi di museum ini. Pada beberapa kursi bahkan terdapat senar-senar yang menandakan kursi tersebut tak boleh diduduki. Larangan untuk mengambil foto pun terpampang di setiap dinding ruangan museum.

Kurangnya pengawas di museum membuat beberapa pengunjung bisa melewati pagar pembatas pada beberapa koleksi. Mereka juga bisa melanggar aturan berfoto. Si sayang sempat menegur salah seorang pengunjung, โ€œJangan kayak gitu Mbak !โ€ Dengan entengnya si mbak itu menjawab, โ€œGak papa.โ€ Andai ada pengawas, mungkin hal-hal seperti ini tak terjadi.

Oiya, terdapat dua koleksi Museum Fatahillah yang sama dengan koleksi Museum Nasional yaitu Tugu Batu Perjanjian Portugis dengan Kerajaan Sunda dan patung kepala. Baru di sinilah saya mengetahui bahwa patung kepala tersebut merupakan patung kepala Sir Thomas Stamford Raffles. Dia adalah Gubernur Jenderal Hindia-Belanda sekitar tahun 1814. Dia juga yang memerintahkan pembangunan gedung Museum Nasional.

Puas berjalan-jalan di museum, sekitar pukul 14.00, kami keluar dari Museum Fatahillah. Perjalanan wisata museum wisata pun masih kami lanjutkan…

8 thoughts on “Museum Fatahillah

  1. rahmaniarahma says:

    waduhh.,
    knapa ada foto saia dstu??
    bisa2 saia aduin ke KY krna pencemaran foto2 nih..ckckck

    oia.,gmbr yg celeng babinya dah saia kirim tuh mas ^_^
    *maaf telat.,maklum jaringan dkantor lge sering cenatcenut alias lagi labil gtu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s