Museum Wayang

Menikmati suasana di Kota Tua adalah rencana saya selanjutnya setelah selesai berkeliling museum. Berjalan-jalan di kawasan ini melambungkan imajinasi saya. Terbayang kejadian-kejadian yang telah berlalu di atas tanah ini. Terbayang bagaimana sibuknya kaum asing pada zaman itu berkeliaran di sekitar kantor Balai Kota Batavia ini.

Lapangan di depan Museum Fatahilllah mungkin dulunya berupa alun-alun. Terbayang kesibukan yang terjadi di lapangan ini pada waktu itu. Bisa saja saat itu banyak orang yang berjualan di sini. Kini lapangan itu didominasi oleh penyedia jasa penyewaan sepeda. Namun bukan sepeda gunung apalagi sepeda balap yang disewakan, melainkan sepeda onthel. Selain itu di sisi lapangan banyak pula penjual makanan mulai dari kerak telor yang khas Jakarta hingga sate Padang. Namun, ada yang disayangkan dari banyaknya orang di lapangan ini. Masih banyak pengunjung yang membuang sampah sembarangan. Hal ini tentunya mengurangi keindahan sekitar lapangan.

Gedung-gedung tua di kawasan ini banyak yang telah beralih fungsi dan ada pula yang tidak digunakan sama sekali sehingga tidak terawat. Ada gedung yang digunakan untuk kantor pos, kafe, bank, perkantoran, bahkan ada yang dijadikan museum. Ya, inilah museum ketiga yang akan kami kunjungi. Saya pun baru mengetahui ada museum lain selain Museum Fatahillah ini. Museum ini memamerkan koleksi wayangnya. Jadi namanya adalah Museum Wayang.

penampakan museum wayang

Pada tahun 1732, gedung yang kini dijadikan sebagai museum masih berfungsi sebagai gereja. Gereja ini hancur dikarenakan gempa yang melanda Jakarta. Pada tahun 1912, di bekas tanah gereja dibangunlah gudang milik Geo Wehry & Co dengan gaya Neo Renaissance. Gudang ini dipugar dan dibangun pada tahun 1938 dengan gaya rumah Belanda pada masa Kompeni. Gedung ini sempat pula dijadikan Museum Jakarta. Namun, pada tahun 1975 gedung ini diresmikan menjadi Museum Wayang oleh Gubernur Jakarta Ali Sadikin. Gagasan untuk mendirikan Museum Wayang pun berasal dari beliau.

Tiket masuk museum untuk kategori dewasa adalah Rp 2.000,00, mahasiswa Rp 1.000,00, dan untuk anak-anak Rp 600,00. Harganya tak lebih dari semangkuk bakso kan ? Dengan harga segitu pengunjung sudah bisa menikmati udara sejuk yang ada di dalam museum, koleksi-koleksi wayang berbagai macam rupa, dan bahkan pertunjukan 3D. Pertama kali masuk ke museum ini kita akan disambut dengan gerabah berbentuk Semar. Selanjutnya adalah berupa lorong yang menampilkan berbagai koleksi wayang golek. Museum ini terdiri dari dua lantai. Lantai dasar berisi koleksi wayang golek dan lantai atas didominasi oleh koleksi wayang kulit, begitu penjelasan dari seorang petugas museum. Ada dua ruangan yang menarik perhatian di lantai dasar ini. Pertama ruang masterpiece yang berisikan karya-karya terbaik perupa wayang. Di ruangan ini dipamerkan wayang revolusi ciptaan Raden Mas Sayid. Tokoh yang diwayangkan adalah tokoh-tokoh zaman perjuangan seperti Soekarno, Hatta, Sutan Sjahrir, hingga Diponegoro. Tak lupa wayang revolusi ini menampilkan pula tokoh-tokoh dari Belanda selaku penjajah. Wayang Kyai Intan juga menjadi bagian dari koleksi di ruang masterpiece. Wayang Kyai Intan adalah wayang yang dibuat dari kulit dan tanduk kerbau. Warna kuning keemasan pada wayang berasal dari perada (pewarna) emas, intan-intanan terbuat dari batu Yakut.

hayoooo, siapa nama wayang ini ?

Ruangan kedua yang tak kalah menarik adalah ruangan 3D. Di sini pengunjung bisa menikmati tontonan pengenalan delapan tokoh wayang. Uniknya ruang 3D di sini adalah pengunjung tak perlu memakai kacamata khusus agar bisa menikmati efek 3D. Menurut pengelola, se-Asia Tenggara baru di Museum Wayanglah kita bisa menyaksikan tontonan 3D tanpa menggunakan kacamata khusus. Efek 3D yang ditawarkan pun sudah lumayan bagus. Saat itu, film yang ditampilkan adalah pengenalan tokoh wayang seperti Bima, Arjuna, Srikandi, Karna, Hanoman, dan Gatotkaca. Para pengunjung lain tampak menikmati tontonan ini. Kapasitas tempat duduk di ruangan ini hanya 24. Jadi pengunjung lain harus antri agar bisa menikmatinya. Sayangnya,  sempat terjadi kekacauan saat kami ingin masuk ruangan 3D. Untunglah masih bisa diatasi.

blencong

Lantai atas dari Museum Wayang memang didominasi oleh koleksi wayang kulit. Silsilah wayang purwa pun terpampang di salah satu sudut di sini. Tata letak yang apik membuat tampilan wayang menjadi lebih menarik. Selain diisi oleh wayang, koleksi di lantai atas ini pun dilengkapi dengan koleksi gamelan. Oiya, di lantai ini pun terdapat koleksi beberapa boneka daerah, seperti ondel-ondel. Bahkan dipamerkan pula boneka di film Unyil yang sempat heboh pada kurun waktu 1980 – 1990an. Tokoh Unyil yang dipamerkan pun lumayan lengkap, dari Pak Unyil hingga Nenek Sihir. Wayang Cina pun turut dihadirkan di museum ini. Wayang ini merupakan remake dari versi aslinya. Topeng-topeng dari berbagai daerah di Indonesia pun turut dipamerkan di sini. Pengunjung akan menemui koleksi topeng pada bagian akhir museum.

sebagian karakter dalam film Unyil

Di akhir perjalanan, pengunjung bisa membeli oleh-oleh di souvenir shop yang terletak di dekat pintu keluar. Kami memutuskan untuk tak membeli apa-apa dari souvenir shop, hehehe… Mungkin lain kali saja kami membeli cenderamata dari museum ini.

Berwisata memang selalu menggembirakan. Namun, untuk wisata kali ini saya mendapatkan hal lain selain kegembiraan. Saya mendapatkan pengetahuan dan kesadaran untuk menjaga kebudayaan dan peninggalan sejarah yang ada di tanah air ini.

One thought on “Museum Wayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s